KSATRIA AIRLANGGA

DEVI ANGGRAINI

TEORI-TEORI DALAM NEGOSIASI

16 December 2013 - dalam NEGOSIASI DAN DIPLOMASI Oleh devi-anggraini-fisip12

Suatu konsep yang dijadikan sebagai salah satu kajian dalam bidang studi ilmu, sudah barang tentu memiliki teori yang mendasari konseptualisasinya, dimana negosiasi yang merupakan salah satu kajian dalam bidang studi ilmu hubungan internasional juga memilikii teori yang mendasarinya. Teori-teori dalam negosiasi dijadikan acuan dasar demi terlaksananya negosiasi yang seharusnya atau yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Teori permainan (Game Theory) dan teori perilaku (Behavioralisme Theory) adalah beberapa teori yang memiliki relevansi terhadap pelaksanaan negosiasi.

            Pertama, penulis berusaha menjelaskan game theory pada kajian negosiasi, terkait dengan mekanisme, unsur, serta kelebihan maupun kekurangannya. Kartono (1994) menjelaskan bahwa teori permainan (Game Theory) merupakan teori yang menggunakan pendekatan matematis dalam merumuskan situasi persaingan dan konflik antara berbagai kepentingan. Teori ini dikembangkan untuk menganalisa proses pengambilan keputusan yaitu strategi optimum dari situasi-situasi  persaingan yang berbeda-beda dan melibatkan dua atau lebih kepentingan. Menurut Varma (1992), teori permainan merupakan sekumpulan pemikiran yang menguraikan strategi keputusan yang rasional dalam situasi konflik dan kompetisi, ketika masing-masing peserta atau pemain saling berusaha memperbesar keuntungan dan memperkecil kerugian.

            Pada awalnya Game theory berasal dari berbagai  permainan seperti catur, poker atau bridge  yang mengandung unsur-unsur konflik, pembuatan keputusan dan kerjasama, yang dimainkan antara dua orang pemain atau lebih. Setiap pemain berusaha memenangkan setiap permainan dari berbagai tindakan yang dilakukannya. Strategi merupakan konsep inti dalam teori permainan serta mengharapkan rasionalitas  pada perilaku para pemain meskipun ada kemungkinan pembuat keputusan. Asumsi yang menyokong teori permainan tersebut adalah pemain tidak hanya sepenuhnya rasional tetapi sungguh-sungguh sadar diri mengenai prioritas di antara tujuannya dan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai strategi yang dapat digunakannya untuk mendapatkan keuntungan (Varma 1992, 406).

Unsur-unsur yang terdapat pada teori ini menurut Ahadi (t.t), yakni pertama, matriks permainan yang menunjukkan hasil dari strategi-strategi permainan yang berbeda, dimana hasil tersebut divisualisasikan dalam bentuk ukuran efektivitas. Kedua, strategi permainan itu sendiri yang merupakan kegiatan menyeluruh para pemain, sebagai reaksi atas aksi yang mungkin dilakukan oleh pemain lain. Kemudian yang ketiga adalah aturan permainan, yang menggambarkan kerangka strategi yang akan dipilih oleh para pemain. Keempat yakni nilai permainan, apabila permainan dikatakan adil maka nilai dari permainan tersebut ‘nol’ yang diartikan bahwa tidak ada pemenang dalam permainan tersebut, sementara apabila terdapat pemenang maka hasil atau nilainya bukan ‘nol’. Kelebihan dari teori ini yakni perhitungannya yang begitu matematis sehingga kecil kemungkinan terjadinya kecurangan. Namun sayangnya, teori ini tidak memperhatikan sikap pemain dengan pesaingnya, sehingga apabila terdapat pemain yang kalah maka si pemenang tidak peduli dan hanya peduli dengan keuntungan yang ia dapat.

            Selain teori permainan, teori lainnya yakni teori perilaku yang juga mendasari aktivitas negosiasi. Dimana teori ini fokus pada perilaku ataupun tingkah laku yang dilakukan oleh para negosiator sebagai akibat stimulus. Seorang negositor yang ulung dapat mengetahui pandangan lawan negosiator lainnya (sepakat atau tidak) dengan melihat perilaku, mimik wajah, maupun tindakan yang ia terapkan. Sehingga dengan kata lain, karakter dari setiap negosiator akan terdefinisikan masing-masing, melalui tingkah laku yang mereka aplikasikan dalam negosiasi. Pada dasarnya teori perilaku ini merupakan kajian Psikologi yang diaplikasikan melalui teori belajar. Salah satu tokoh terkenal yang merupakan aliran behavioralisme ini yakni Skinner seperti yang dikutip oleh Slavin (2000) mengatakan bahwa, respon yang diterima seseorang tidak sederhana semata respon, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku.

Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Hal ini kemudian mengacu pada kelemahan dari teori ini, bahwa tidak menutup kemungkinan emosi negatif muncul sebagai ketidaksetujuan seorang negosiator, yang mana emosi negatif tersebut merupakan hasil stimulus yang diberikan oleh negosiator lain. Namun kelebihannya adalah negosiator tidak perlu melakukan perhitungan matematis yang memakan waktu panjang untuk melihat hasil akhir dari negosiasi, karena cukup melihat dan identifikasi  tindakan negosiator lawan, apakah mereka setuju atau tidak.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa teori negosiasi terbagi menjadi dua yakni teori permainan dan teori perilaku, dimana masing-masing keduanya memiliki mekanisne serta kelebihan maupun kekurangan. Ide dasar teori permainan adalah tingkah laku strategis dari pemain atau pengambil  keputusan. Anggapannya bahwa setiap pemain mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas dan rasional. Berbeda dengan teori perilaku yang yang fokus pada stimulus dan respon sebagai akibat perilaku yang ditunjukkan, terkait dengan situasi dan kondisi.

 

REFERENSI

Ahadi, Zulkarnain Edhar. t.t. “Game Theory/Teori Permainan” [online]. dalam https://www.academia.edu/4567775/GAME_THEORY_TEORI_PERMAINAN_Objektif_Pemain_A_Pemain_BPemain_A_Pemain_BPemain_A_Pemain_B [diakses 26 November 2013]

Kartono.1994. Teori Permainan. Penerbit Andi Offset : Yogyakarta.

 Varma, S.P. 1992. Teori Politik Modern.  Jakarta: Rajawali Press

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    79179